Keunikan Sejarah Rumah Adat tradisional Joglo Jawa Tengah 
Rumah joglo ialah rumah tradisional Jawa yang terbuat dari kayu jati dan terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.
Pada umumnya, rumah joglo hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materilebih. Selain sebab rumah joglo membutuhkan materi material yang banyak dan mahal, pemilik rumah joglo juga merupakan pelambang sosial di masyarakat.
Pemilik rumah joglo dimasyarakat Jawa pada umumnya ialah dari kalangan darah biru Atap joglo berbentuk tajug, semacam atap piramidal yang mengacu pada bentuk gunung. Dari sinilah nama joglo tersebut muncul. Istilah joglo berasal dari dua kata, 'tajug' dan 'loro' yang bermakna 'penggabungan dua tajug'.
Sejarah Rumah Adat Joglo Jawa tengah
Pada kala 16 sehabis runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, semenjak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, joko Tingkir anak menantu Raja Demak memindahkan kerajaan Demak ke Pajang. Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar ialah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memperlihatkan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati.
Di pertengahan kala 16 bangsa Portugis dan Spanyol tiba ke Indonesia dalam perjuangan mencari rempah-rempah yang akan diperdagangkan di Eropa. Pada dikala yang sama, bangsa Inggris dan lalu bangsa Belanda tiba ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi.
Di awal kala 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, sehabis dia wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin menentukan raja baru. Perselisihan bertambah keruh sehabis adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akibatnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755.
Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta.
Struktur Bangunan Rumah Joglo
Bangunan joglo banyak dijumpai pada arsitektur Jawa Tengah. Joglo merupakan rumah kerangka bangunan utama dari rumah tradisional Jawa,
Atap joglo ditopang oleh empat tiang utama yang disebut Soko Guru merupakan filosofi dari adanya kekuatan yang dipercaya berasal dari empat penjuru mata angin. Berdasarkan konsep spiritual ini, insan berada di tengah perpotongan keempat arah mata angin tersebut. Suatu kawasan yang konon mengandung getaran magis tingkat tinggi. Titik perpotongan ini disebut juga sebagai Pancer atau Manunggaling Kiblat Papat.
Ada tiga pecahan dalam susunan rumah joglo. Pertama ialah ruang pertemuan yang disebut pendapa. Kedua ialah ruang tengah yang disebut pringgitan dan ketiga ialah ruang belakang (dalem) yang berfungsi sebagai ruang keluarga.
Pendapa Rumah Joglo
Pendapa ini terletak di depan. Dibuatnya tanpa dinding, sebab berkaitan dengan abjad orang Jawa yang ramah dan terbuka. Ruangan mendapatkan tamu ini biasanya tidak diberi meja ataupun kursi, hanya tikar yang digelar biar antara tamu dan tuan rumah sanggup berbicara dalam kesetaraan.
Pringgitan Rumah Joglo
Bagian pringgitan ialah kawasan dimana pemilik rumah menyimbolkan diri sebagai bayang-bayang Dewi Sri. Dewi padi ini dianggap sebagai sumber segala kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan. Terletak antara pendapa dan dalem, pringgitan digunakan sebagai kawasan untuk menggelar pertunjukan wayang yang berkaitan dengan upacara ruwatan adat.
Dalem atau Ruang Utama Rumah Joglo
Dalem ialah pecahan yang digunakan sebagai kawasan tinggal keluarga. Di dalamnya ada beberapa kamar yang disebut senthong.
Jaman dulu, senthong hanya dibuat sejumlah tiga bilik saja. Kamar pertama diperuntukkan untuk para lelaki, kamar kedua dikosongkan dan kamar ketiga digunakan oleh para perempuan.
Kamar kedua yang kosong ini tetap diisi dengan kawasan tidur lengkap dengan segala perlengkapannya. Disebut krobongan, ruangan kosong ini digunakan untuk menyimpan pusaka dan sebagai ruang pemujaan terhadap Dewi Sri. Inilah pecahan rumah yang dianggap paling suci.
Rumah tradisional jawa terbagi menjadi dua bagian, yakni rumah induk dan rumah embel-embel Rumah Induk terdiri dari beberapa pecahan sebagai berikut :
1.Pendapa / Pendopo
Bagian ini terletak di depan rumah. Biasanya digunakan untuk kegiatan formal, menyerupai pertemuan, kawasan pagelaran seni wayang kulit dan tari-tarian, serta upacara adat. Ruang ini memperlihatkan perilaku dekat dan terbuka, meskipun begitu Pendopo seringkali dibentuk megah dan berwibawa
2.Pringitan.
Bagian ini terletak antara pendapa dan rumah dalam (omah njero). Selain digunakan untuk jalan masuk, lorong juga kerap digunakan sebagai kawasan pertunjukan wayang kulit. Bentuk dari pringitan menyerupai serambi berbentuk tiga persegi dan menghadap ke arah pendopo
3. Emperan.
Ini ialah penghubung antara pringitan dan umah njero. Bisa juga dikatakan sebagai teras depan sebab lebarnya sekitar 2 meter. Emperan digunakan untuk mendapatkan tamu, kawasan bersantai, dan kegiatan publik lainnya. Pada emperan biasanya terdapat sepasang dingklik kayu dan meja.
4. Omah njero.
Bagian ini sering pula disebut omah mburi, dalem ageng, atau omah saja. Kadang disebut juga sebagai omah-mburi, dalem ageng atau omah. Kata omah dalam masyarakat Jawa juga digunakan sebagai istilah yang meliputi arti kedomestikan, yaitu sebagai sebuah unit kawasan tinggal.
5. Senthong-kiwa.
Berada di sebelah kanan dan terdiri dari beberapa ruangan. Ada yang berfungsi sebagai kamar tidur, gudang, kawasan menyimpaan persediaan makanan, dan lain sebagainya.
6. Senthong tengah.
Bagian ini terletak ditengah pecahan dalam. Sering juga disebut pedaringan, boma, atau krobongan. Sesuai dengan letaknya yang berada jauh di dalam rumah, pecahan ini berfungsi sebagai kawasan menyimpan benda-benda berharga, menyerupai harta keluarga atau pusaka semacam keris, dan lain sebagainya
7. Senthong-tengen.
Bagian ini sama menyerupai Senthong kiwa, baik fungsinya maupun pembagian ruangannya.
8. Gandhok.
Merupakan bangunan embel-embel yang letaknya mengitari sisi belakang dan samping bangunan inti.Sejak kala ke 7, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah, yaitu: K
Rumah Adat
Berdasarkan sejarah, perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa sanggup dikategorikan menjadi 4 macam yaitu rumah tradisional:
*bentuk Panggangpe
*bentuk Kampung
*bentuk Limasan
*bentuk Joglo
Dibanding bentuk lainnya, rumah bentuk joglo lebih dikenal masyarakat pada umumnya.
Rumah Joglo kebanyakan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu. sebab rumah joglo butuh materi lebih banyak dan mahal ketimbang rumah bentuk lain. Masyarakat jawa dulu menganggap bahwa rumah joglo dihentikan dimiliki oleh sembarang orang, oleh orang kebanyakan, tapi hanya diperkenankan bagi kaum bangsawan, raja, dan pangeran, serta mereka yang terhormat dan terpandang. Namun bakir balig cukup akal ini rumah joglo digunakan pula oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk aneka macam fungsi lain, menyerupai gedung pertemuan serta perkantoran.
Jenis-jenis Rumah Joglo
Joglo Limasan Lawakan (Joglo Lawakan)
Joglo Sinom
Joglo Jompongan
Joglo Pangrawit
Joglo Mangkurat
Joglo Hageng
Joglo Semar Tinandhu
Joglo Kudus
Joglo Jepara, dan
Joglo Pati
Penyebaran rumah joglo ialah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun bangunan ini juga banyak ditemukan di Madura dan bali.
Demikian Keunikan Sejarah Rumah Adat tradisional Joglo Jawa Tengah
Rumah joglo ialah rumah tradisional Jawa yang terbuat dari kayu jati dan terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.
Pada umumnya, rumah joglo hanya dimiliki oleh orang-orang yang berkemampuan materilebih. Selain sebab rumah joglo membutuhkan materi material yang banyak dan mahal, pemilik rumah joglo juga merupakan pelambang sosial di masyarakat.
Pemilik rumah joglo dimasyarakat Jawa pada umumnya ialah dari kalangan darah biru Atap joglo berbentuk tajug, semacam atap piramidal yang mengacu pada bentuk gunung. Dari sinilah nama joglo tersebut muncul. Istilah joglo berasal dari dua kata, 'tajug' dan 'loro' yang bermakna 'penggabungan dua tajug'.
Sejarah Rumah Adat Joglo Jawa tengah
Pada kala 16 sehabis runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, semenjak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, joko Tingkir anak menantu Raja Demak memindahkan kerajaan Demak ke Pajang. Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar ialah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memperlihatkan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati.
Di pertengahan kala 16 bangsa Portugis dan Spanyol tiba ke Indonesia dalam perjuangan mencari rempah-rempah yang akan diperdagangkan di Eropa. Pada dikala yang sama, bangsa Inggris dan lalu bangsa Belanda tiba ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi.
Di awal kala 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, sehabis dia wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin menentukan raja baru. Perselisihan bertambah keruh sehabis adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akibatnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755.
Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta.
Struktur Bangunan Rumah Joglo
Bangunan joglo banyak dijumpai pada arsitektur Jawa Tengah. Joglo merupakan rumah kerangka bangunan utama dari rumah tradisional Jawa,
Atap joglo ditopang oleh empat tiang utama yang disebut Soko Guru merupakan filosofi dari adanya kekuatan yang dipercaya berasal dari empat penjuru mata angin. Berdasarkan konsep spiritual ini, insan berada di tengah perpotongan keempat arah mata angin tersebut. Suatu kawasan yang konon mengandung getaran magis tingkat tinggi. Titik perpotongan ini disebut juga sebagai Pancer atau Manunggaling Kiblat Papat.
Ada tiga pecahan dalam susunan rumah joglo. Pertama ialah ruang pertemuan yang disebut pendapa. Kedua ialah ruang tengah yang disebut pringgitan dan ketiga ialah ruang belakang (dalem) yang berfungsi sebagai ruang keluarga.
Pendapa Rumah Joglo
Pendapa ini terletak di depan. Dibuatnya tanpa dinding, sebab berkaitan dengan abjad orang Jawa yang ramah dan terbuka. Ruangan mendapatkan tamu ini biasanya tidak diberi meja ataupun kursi, hanya tikar yang digelar biar antara tamu dan tuan rumah sanggup berbicara dalam kesetaraan.
Pringgitan Rumah Joglo
Bagian pringgitan ialah kawasan dimana pemilik rumah menyimbolkan diri sebagai bayang-bayang Dewi Sri. Dewi padi ini dianggap sebagai sumber segala kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan. Terletak antara pendapa dan dalem, pringgitan digunakan sebagai kawasan untuk menggelar pertunjukan wayang yang berkaitan dengan upacara ruwatan adat.
Dalem atau Ruang Utama Rumah Joglo
Dalem ialah pecahan yang digunakan sebagai kawasan tinggal keluarga. Di dalamnya ada beberapa kamar yang disebut senthong.
Jaman dulu, senthong hanya dibuat sejumlah tiga bilik saja. Kamar pertama diperuntukkan untuk para lelaki, kamar kedua dikosongkan dan kamar ketiga digunakan oleh para perempuan.
Kamar kedua yang kosong ini tetap diisi dengan kawasan tidur lengkap dengan segala perlengkapannya. Disebut krobongan, ruangan kosong ini digunakan untuk menyimpan pusaka dan sebagai ruang pemujaan terhadap Dewi Sri. Inilah pecahan rumah yang dianggap paling suci.
Rumah tradisional jawa terbagi menjadi dua bagian, yakni rumah induk dan rumah embel-embel Rumah Induk terdiri dari beberapa pecahan sebagai berikut :
1.Pendapa / Pendopo
Bagian ini terletak di depan rumah. Biasanya digunakan untuk kegiatan formal, menyerupai pertemuan, kawasan pagelaran seni wayang kulit dan tari-tarian, serta upacara adat. Ruang ini memperlihatkan perilaku dekat dan terbuka, meskipun begitu Pendopo seringkali dibentuk megah dan berwibawa
2.Pringitan.
Bagian ini terletak antara pendapa dan rumah dalam (omah njero). Selain digunakan untuk jalan masuk, lorong juga kerap digunakan sebagai kawasan pertunjukan wayang kulit. Bentuk dari pringitan menyerupai serambi berbentuk tiga persegi dan menghadap ke arah pendopo
3. Emperan.
Ini ialah penghubung antara pringitan dan umah njero. Bisa juga dikatakan sebagai teras depan sebab lebarnya sekitar 2 meter. Emperan digunakan untuk mendapatkan tamu, kawasan bersantai, dan kegiatan publik lainnya. Pada emperan biasanya terdapat sepasang dingklik kayu dan meja.
4. Omah njero.
Bagian ini sering pula disebut omah mburi, dalem ageng, atau omah saja. Kadang disebut juga sebagai omah-mburi, dalem ageng atau omah. Kata omah dalam masyarakat Jawa juga digunakan sebagai istilah yang meliputi arti kedomestikan, yaitu sebagai sebuah unit kawasan tinggal.
5. Senthong-kiwa.
Berada di sebelah kanan dan terdiri dari beberapa ruangan. Ada yang berfungsi sebagai kamar tidur, gudang, kawasan menyimpaan persediaan makanan, dan lain sebagainya.
6. Senthong tengah.
Bagian ini terletak ditengah pecahan dalam. Sering juga disebut pedaringan, boma, atau krobongan. Sesuai dengan letaknya yang berada jauh di dalam rumah, pecahan ini berfungsi sebagai kawasan menyimpan benda-benda berharga, menyerupai harta keluarga atau pusaka semacam keris, dan lain sebagainya
7. Senthong-tengen.
Bagian ini sama menyerupai Senthong kiwa, baik fungsinya maupun pembagian ruangannya.
8. Gandhok.
Merupakan bangunan embel-embel yang letaknya mengitari sisi belakang dan samping bangunan inti.Sejak kala ke 7, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah, yaitu: K
Rumah Adat
Berdasarkan sejarah, perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa sanggup dikategorikan menjadi 4 macam yaitu rumah tradisional:
*bentuk Panggangpe
*bentuk Kampung
*bentuk Limasan
*bentuk Joglo
Dibanding bentuk lainnya, rumah bentuk joglo lebih dikenal masyarakat pada umumnya.
Rumah Joglo kebanyakan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu. sebab rumah joglo butuh materi lebih banyak dan mahal ketimbang rumah bentuk lain. Masyarakat jawa dulu menganggap bahwa rumah joglo dihentikan dimiliki oleh sembarang orang, oleh orang kebanyakan, tapi hanya diperkenankan bagi kaum bangsawan, raja, dan pangeran, serta mereka yang terhormat dan terpandang. Namun bakir balig cukup akal ini rumah joglo digunakan pula oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk aneka macam fungsi lain, menyerupai gedung pertemuan serta perkantoran.
Jenis-jenis Rumah Joglo
Joglo Limasan Lawakan (Joglo Lawakan)
Joglo Sinom
Joglo Jompongan
Joglo Pangrawit
Joglo Mangkurat
Joglo Hageng
Joglo Semar Tinandhu
Joglo Kudus
Joglo Jepara, dan
Joglo Pati
Penyebaran rumah joglo ialah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun bangunan ini juga banyak ditemukan di Madura dan bali.
Demikian Keunikan Sejarah Rumah Adat tradisional Joglo Jawa Tengah

